- Sejarah
- Latar Belakang
- Ilustrasi dan Revolusi Industri
- Karl Marx
- Herbert Spencer
- Teori sosial dalam modernitas
- Teori sosiologis klasik
- Fungsionalisme
- Teori konflik
- Interaksionisme simbolik
- Utilitarianisme
- Teori Sosiologis Kontemporer
- Referensi
The teori sosiologi adalah disiplin yang bertanggung jawab untuk mempelajari berbagai fenomena dunia sosial dan hubungan di antara mereka. Penjelasan mereka dapat berkisar dari fakta yang sangat spesifik hingga paradigma yang memungkinkan masyarakat untuk sepenuhnya dianalisis dan ditafsirkan.
Fungsi utama dari berbagai teori sosiologi adalah mencoba menjelaskan perilaku manusia dalam masyarakat tertentu. Untuk melakukannya, mereka didasarkan pada bukti yang dikumpulkan oleh berbagai cabang ilmu, seperti psikologi, antropologi atau biologi; dan ilmu sosial seperti sejarah atau ekonomi.

Berbeda dengan teori sosial, yang secara khusus mementingkan kritik terhadap fenomena sosial, teori sosiologis mencoba untuk benar-benar tidak memihak dalam analisisnya terhadap fakta-fakta yang ada dalam masyarakat masa lalu dan masa kini.
Sejarah
Latar Belakang
Teori sosiologi dan sosiologis seperti yang kita pahami sekarang muncul terutama dari zaman Pencerahan. Pada asalnya, mereka adalah cara berpikir yang didasarkan pada positivisme sosial, dan muncul dari perkembangan metode ilmiah dan filsafat pengetahuan.
Namun, sejak zaman kuno, para pemikir telah memperhatikan masalah sosial dan pengaruh budaya dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, dalam teks klasik, filsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles bertanya-tanya apa cara terbaik untuk mengatur masyarakat.
Sebaliknya, pada abad keempat belas seorang pemikir Muslim bernama Ibn Khaldun menulis risalah tentang konflik dan kohesi sosial. Ini adalah salah satu teks "ilmiah" pertama di bidang sosiologi dan teori sosial.
Ilustrasi dan Revolusi Industri
Baru pada masa Pencerahan, risalah yang benar-benar ilmiah tentang teori sosial muncul. Pada awalnya karya-karya ini sangat dipengaruhi oleh arus positivis, yang memandang sejarah sebagai kemajuan yang berkesinambungan dan memiliki visi kemanusiaan yang optimis.
Saat ini, karya terpenting adalah Comte, yang dianggap sebagai bapak sosiologi. Filsuf ini melihat teori sosial sebagai ilmu terpenting, karena ia bertugas mempelajari fenomena paling kompleks yang diketahui: masyarakat manusia.
Belakangan, setelah Revolusi Industri, pandangan positivis tentang teori sosial kehilangan keunggulannya, dan arus-arus lain muncul, seperti materialisme historis Karl Marx atau Darwinisme sosial, berdasarkan teori evolusi Charles Darwin.
Karl Marx
Marx menolak positivisme dan mencoba menciptakan ilmu masyarakat, sedemikian rupa sehingga beberapa pemikir seperti Isaiah Berlin menggambarkannya sebagai bapak sosiologi modern yang sebenarnya.
Inti dari teorinya adalah gagasan bahwa sejarah didorong oleh perjuangan kelas antara mereka yang memiliki alat produksi dan mereka yang tidak.
Herbert Spencer
Herbert Spencer adalah pencipta Darwinisme Sosial. Menolak teori Marxis, Spencer mengusulkan bahwa mekanisme fundamental yang digunakan masyarakat untuk maju adalah kelangsungan sistem yang paling cocok.
Oleh karena itu, alih-alih merekomendasikan kontrol yang kuat atas masyarakat, ia mengusulkan sistem bebas yang memungkinkan seleksi alam atas sistem sosial.
Teori sosial dalam modernitas
Dari akhir abad ke-19, sosiologi didirikan sebagai ilmu independen, yang menjadi kursi pertama pada subjek di berbagai universitas Eropa. Juga pada saat ini visi yang lebih empiris diadopsi, sedemikian rupa sehingga ia mencoba untuk menyamakan sosiologi dengan ilmu-ilmu murni melalui penggunaan metode ilmiah.
Namun, pada awal abad ke-20, muncul tren anti-positivis yang membuang validitas empirisme.
Saat ini, anti-positivisme telah bergabung dengan arus baru seperti teori kritis dan postmodernisme, membuat penelitian kualitatif menjadi penting (yaitu, yang berkaitan dengan mempelajari setiap fenomena secara mendalam tanpa mengkhawatirkan metode ilmiah).
Belakangan ini, sejumlah besar arus baru telah muncul dalam teori sosial, masing-masing mencoba memahami masyarakat manusia dari paradigmanya sendiri. Beberapa yang terpenting adalah feminisme, konstruksionisme sosial atau teori pertukaran sosial.
Teori sosiologis klasik
Teori sosiologis klasik biasanya dibagi menjadi empat aliran yang berbeda: fungsionalisme, teori konflik, interaksionisme simbolik, dan utilitarianisme.
Fungsionalisme
Fungsionalisme memperlakukan seluruh masyarakat sebagai satu elemen, memahami bahwa setiap komponennya adalah bagian mendasar untuk berfungsi dengan baik. Arus inilah yang paling banyak meminum dari Darwinisme sosial.
Analogi yang paling sering digunakan untuk menggambarkan visi fungsionalis masyarakat adalah tubuh manusia. Di dalamnya kita dapat menemukan badan-badan yang berbeda (yang dalam masyarakat akan menjadi aturan dan institusi); masing-masing diperlukan untuk berfungsinya tubuh.
Teori konflik
Teori konflik menyatakan bahwa kekuatan utama dalam evolusi masyarakat adalah perjuangan berbagai segmen masyarakat untuk mendapatkan sumber daya yang langka, seperti tanah atau makanan.
Karl Marx adalah salah satu pemikir terpenting teori konflik. Dia mendalilkan bahwa masyarakat terstruktur dengan cara tertentu karena sedikit yang mengendalikan semua sumber daya, dan karena itu, yang lain harus menjual pekerjaan mereka untuk mendapatkan uang.
Interaksionisme simbolik
Interaksionisme simbolik adalah arus teori sosiologis yang berfokus pada proses sosial dan pembentukannya melalui interaksi sehari-hari manusia. Menurut interaksionis, masyarakat tidak lebih dari realitas yang dimiliki oleh orang-orang ketika mereka berinteraksi satu sama lain.
Salah satu topik yang paling menarik minat para interaksionis adalah penggunaan simbol-simbol: misalnya bahasa non-verbal, ekspresi, pakaian atau adat istiadat yang khas dari suatu masyarakat.
Utilitarianisme
Utilitarianisme yang juga dikenal dengan teori pertukaran atau teori pilihan rasional adalah arus teori sosiologis yang mengasumsikan bahwa dalam setiap interaksi, setiap orang selalu mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.
Dengan cara ini, kaum utilitarian menganggap bahwa masyarakat saat ini akan berevolusi karena memenuhi kebutuhan orang secara lebih efisien.
Teori Sosiologis Kontemporer
Dalam dekade terakhir, di bidang sosiologi, banyak sekali tren baru yang mencoba menjelaskan fenomena sosial. Beberapa yang terpenting adalah sebagai berikut:
- Teori kritis.
- Teori yang dikompromikan.
- Feminisme.
- Teori medan.
- Teori formal.
- Neo positivisme.
- Teori pertukaran sosial.
Referensi
- "Teori sosiologis utama" di: Thought Co. Diperoleh pada: 28 Februari 2018 dari Thought Co: thoughtco.com.
- "Teori sosiologis" di: Wikipedia. Diperoleh pada: 28 Februari 2018 dari Wikipedia: en.wikipedia.org.
- Sosiologi ”di: Wikipedia. Diperoleh pada: 28 Februari 2018 dari Wikipedia: en.wikipedia.org.
- "Teori sosiologis" di: Situs Pembelajaran Sejarah. Diperoleh pada: 28 Februari 2018 dari Situs Pembelajaran Sejarah: historylearningsite.co.uk.
- "Sejarah sosiologi" di: Wikipedia. Diperoleh pada: 28 Februari 2018 dari Wikipedia: en.wikipedia.org.
